Upaya memperkuat peran anak muda dalam isu lingkungan terus didorong melalui kegiatan sharing session bertajuk “Pemetaan Masalah dan Strategi Kampanye Lingkungan bagi Anak Muda” yang berlangsung pada hari Seala, 4 November 2025. Diskusi ini menghadirkan dua pemantik, yakni Gloria Kwee, relawan Eco Defender sejak 2020, serta Maria Amote, aktivis yang terlibat dalam berbagai gerakan lingkungan bersama Greenpeace, Pusaka Bentala Rakyat, dan LBH Papua Merauke sejak 2021.
Dalam pemaparannya, Gloria Kwee menekankan bahwa gerakan lingkungan tidak cukup hanya berhenti pada label “aktivis”. Menurutnya, esensi dari aktivisme adalah tindakan nyata. Ia juga menyinggung keterlibatan berbagai kelompok masyarakat—mulai dari perempuan, anak muda, nelayan, petani, hingga masyarakat miskin kota—dalam konferensi krisis iklim yang melibatkan 32 provinsi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa isu lingkungan merupakan persoalan bersama yang membutuhkan aksi kolektif lintas kelompok.
Sementara itu, Maria mengangkat pengalaman lapangannya dalam mendampingi penolakan pembangunan bendungan di Kali Muyu, Distrik Jair. Ia menggambarkan bahwa persoalan lingkungan di daerah tidak dapat dilepaskan dari konteks global, termasuk praktik eksploitasi sumber daya alam, kebijakan yang sentralistik, serta pendekatan militeristik dalam birokrasi. Dalam forum internasional seperti bootcamp Greenpeace 2025 yang diikutinya, bahkan muncul rencana untuk mengajukan gugatan lingkungan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2030.
Maria juga menyoroti ketegangan antara Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti food estate, dengan komitmen global terhadap isu iklim. Meski terdapat upaya seperti implementasi kesepakatan internasional, banyak kebijakan dinilai belum mengikat secara kuat. Persoalan korupsi dalam sektor ekstraksi sumber daya alam pun disebut sebagai salah satu akar masalah yang memperparah krisis lingkungan.
Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap teknologi asing menjadi sorotan penting. Keterbatasan anggaran riset dan pengembangan (R&D) dinilai menghambat lahirnya inovasi lokal, sehingga negara kerap terjebak dalam kerja sama bilateral yang tidak selalu menguntungkan.
Di tingkat lokal, tantangan juga datang dari perubahan sosial di kalangan anak muda. Budaya individualisme yang semakin meningkat di Merauke membuat kepedulian terhadap isu lingkungan cenderung menurun. Bahkan, dari sekitar 15 ribu mahasiswa di Universitas Musamus, hanya sebagian kecil yang terlibat aktif dalam merespons persoalan lingkungan di daerahnya.
Minimnya kampanye kreatif juga menjadi perhatian. Banyak karya anak muda dinilai justru menormalisasi perilaku negatif seperti kekerasan dan konsumsi alkohol, alih-alih menjadi medium edukasi dan perubahan sosial. Padahal, seni dan kreativitas dinilai memiliki potensi besar untuk membangun kesadaran publik.
Sebagai langkah strategis, forum ini mendorong pentingnya membangun gerakan massa yang kuat, dimulai dari aksi-aksi kreatif berbasis seni untuk menciptakan tren baru yang lebih positif. Kampanye juga perlu difokuskan pada penguatan narasi, keterlibatan dalam audiensi publik, serta upaya melawan normalisasi budaya yang merugikan masyarakat.
Selain itu, peserta diajak untuk memulai dari kebiasaan kecil dan membangun imajinasi baru tentang teknologi yang tidak selalu identik dengan modernisasi berbasis mesin. Pengetahuan lokal, seperti pengelolaan sagu oleh masyarakat adat Papua yang memanfaatkan bahan alami, disebut sebagai contoh teknologi yang berkelanjutan dan relevan dengan konteks lokal.
Melalui diskusi ini, diharapkan anak muda di Merauke dapat mengambil peran lebih aktif dalam gerakan lingkungan, tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai pelaku perubahan yang mampu menggerakkan masyarakat secara luas.



